Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Andaikan dan Alangkah

bagaikan sebuah permohonan Andaikan hanya kata yang berselimut kenyataan pahit Sedangkan alangkah cuma kata yang tak ingin terkekang perih Kita memang begitu Telalu lama berseru Hingga berkubang abu Yang mungkintak bisa bersatu Aku yang menanti Kamu yang pergi Dimana bisa bertepi Di purnama yang ke berapa kali Diami hati yang tak bertuan pun Kau tak dapat sanggupkan Mungkin aku yang sedang menentang takdir Memintamu untuk hadir Yang nyatanya hanya mimpi pahit Dan benar-benar sakit Tangerang Selatan, 28 September 2019; 15.06 dari selatan kita berasal di selatan kita tak kunjung betemu terdapat selat-selat yang memisahkan mungkin begini kita selamanya terlambat kau yang terlambat menyadari perasaan sendiri atau aku yang terlambat menyadari untuk pergi TS, 6 Okt 2019; 09.20

Mama

Mama By Nr.adh 17 Juli 2019 Kami terlahir dari perempuan sederhana Yang tak banyak berkeluh kesah Yang bangun untuk menjemput pagi Sehingga tak dipatuk ayam rezeki yang telah dijanji Dirimu Sesederhana angin beralun menjatuhkan daun-daun musim kemarau Cakapmu di pagi hari layaknya gemuruh di musim hujan yang selalu mengartikan rasa kasih Kami rindu percakapan di pinggiran jalan Dan saat jemarimu menyapu lembut rambut ini Dan aku teramat rindu saat musim penghujan Kita duduk menyelami cerita masa kecil ataupun bercanda gurau dibawah derasnya rintik air Dirimu dimakan usia Garis-garis di wajah terukir jelas menutupi kejayaan masa muda Namun tidak dengan hatimu yang masih tetap hangat seperti tempo dulu Aku ingin memelukmu, menciummu atau sekedar tidur dipangkuanmu Bercerita tentang hari dimana aku berpetualang dengan alunan dunia kejam Kau akan mendengar, selepasnya akan tersenyum dan berkata hal-hal yang menenangkan jiwa serta raga Bagiku kejamnya dunia t...
Yang Ku Sebut Rumah Yang ku sebut rumah, ternyata tidak disini Terlalu membutakan hingga lupa ini hanyalah tempat persinggahan Katanya seperti suatu siang yang terik dengan kehausan di tengah padang pasir Cukup seteguk air lalu pergi, tidak demikian Serakah itu sifat manusia, perihal tak terbantahkan Cukup bukan tanda kepuasan, itu menyiratkan kekurangan dengan artian lebih Sebuah tempat sementara pun dengan kemauan di jadikan selamanya Serakah. Serakah. Itu juga diriku hendak memeluk gunung dengan lengan pendek. Lupa dimana yang ku sebut rumah Disini atau disana. Jawabnnya jelas namun diakhiri tanda tanya Sebab rasa ini lebih rapuh untuk yang tak nampak dan tanya itu mengungkapkan sebuah keyakinan Buta. Tak ingin melihat. Sudah terlanjur salah untuk yakini kebenaran Rumah bukan disini. Ini hanya tempat yang ambigu. Ingin pulang namun takut meninggalkan kemewahan terlalu dini Takut pulang dengan penyiksaan menanti di batas penghujung hari Leb...